Tampilkan postingan dengan label x Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label x Gunung. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2011

Pendakian Gunung Merbabu

Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan ,sedangkan kabupaten semarang di bagian utara. Gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.

 
Gunung merbabu dapat di daki melalui jalur selo, kopeng maupun ngagrong. Gunung ini berdampingan dengan gunung merapi di sebelah utaranya. Selo adalah daerah pendakian yang ideal, disamping terdapat bescamp pendakian ke gunung merbabu, juga terdapat bascamp pendakian ke gunung merapi, kedua bascamp ini hanya terpisah oleh jalan yang menghubungkan kota Boyolali dengan muntilan(Magelang). Selain itu selo juga memiliki pemandangan yang bagus karena letaknya yang berada di antara gunung merapi dan merbabu. Selo berasal dari bahasa jawa yang berarti “Celah” , jadi Toponimi selo berasal karena tempat tersebut merupakan celah yang diapit oleh gunung merapi di sebelah selatan dan merbabu di sebelah utara. Nb- baca selo seperti e pada kata selalu. Karena kalau di baca e seperti pada kata edan, maka akan mempunyai arti batu.

Bascamp Selo (kecamatan selo, kab. Boyolali) dapat di tempuh dari Solo melalui kota Solo-Boyolali-Selo, perjalanan melalui angkutan umum bisa di tempuh dengan bus rute Solo-Boyolali dan diteruskan dengan mini bus jurusan Boyolali-Selo. Sedangkan dari arah jogja lebih mudah di tempuh melalui jalur Jogja-Muntilan-Selo dan dari arah Semarang dapat ditempuh melalui Semarang –Magelang-Muntilan-Selo.

Liburan semester adalah liburan paling kami nantikan pada waktu kuliah, bulan juni tahun lalu (2008) kami mempunyai target untuk bermain-main di gunung merbabu, karena semester sebelumnya telah pernah mendaki gunung merapi. Seperti biasa terdapat 2 manusia yang sulit terpisahkan dalam pendakian, yaitu saya sushi motto dan azis alias simbah. Liburan ini bertepatan dengan libur panjang akhir tahun sehingga banyak mahasiswa yang memilih pulang kampong ke daerah asal masing-masing. Akhirnya pendakian ini kami lakukan dengan 3 awak yaitu saya sendiri,bekti van sambas, dan simbah. Meskipun hanya ber-3 kami sangat antusias untuk sampai puncak merbabu secepatnya.

Terik matahari di siang hari (21 juni 08) membuat kami gerah, di dalam rumah kos saya, simbah mendatangi dengan semangat untuk mengajak berbelanja kebutuhan logistik pendakian, siang itu juga kami bertiga berbelanja kebutuhan kami, dan yang tak terlupakan adalah kopi hitam untuk menemani perjalanan kami, ya,,,kopi adalah bawaan yang selalu kami sediakan, dan kopi adalah saksi bisu kami dalam perjalanan ke puncak gunung manapun. Perjalanan kami tempuh dari solo dengan naik motor pada sore itu sekitar jam 5, yang start di kos saya di belakang kampus UNS.

TAKUT ANJING

Sesampainya di selo jam menunjukkan pukul setengah 7. Bertiga kami langsung melaju mengikuti papan penunjuk arah bascamp merbabu, melewati perkebunan warga yang sepi melalui jalan aspal rusak sekitar 10 menit, tapi lama kelamaan tak kunjung terdapat pemukiman yang biasa terdapat di lereng gunung yang biasa di jadikan tempat bascamp. Kami bertiga berhenti di jalan sempit di tengah ladang warga. Di tengah jalan yang sempit dan di tempat curam membuat kami sulit memutar sepeda motor kami untuk berbelok arah, karena arah yang kami tuju ternyata buntu oleh longsoran. Dengan kesusahan kami memutar sepeda motor, terdengar sayup-sayup gonggongan anjing yang lambat laun semakin dekat dengan kami. Kami pun semakin grogi dan berteriak-teriak karena si anjing ini menggonggong dan mendekat kami. Akhirnya dengan segala ketakutan dengan anjing kami berhasil memutar motor kami dan langsung menggeber motor kami ke bawah.

Akhirnya kami kembali ke pusat kota selo dan mencari tahu daerah bascam yang kami cari, ternyata bascamp yang kami tuju tadi tidak dapat di akses karena terhalang oleh longsoran, cetus warga. Dan akhirnya disarankan warga untuk melalui jalan yang lainnya untuk mencari daerah tersebut.

JAM 9 DARI BASECAMP

Sesampainya di bascam kami langsung melakukan sholat isya + jama” dengan sholat magrib. Selain itu karena suhu dingin kami memesan kopi sekaligus nasi+telor untuk makan malam kami. Jam menunjukkan pukul 9.00. kami segera mempersiapkan tas kami untuk segera kami bawa dalam pendakian. Kami adalah kaum minimalis yang males ngemodal-is, ha2,,, karena malam itu juga kami mendaki hanya diterangi dengan lampu korek gas seharga 1500-,. Perjalanan sangat menyenangkan, kami bertiga mengisi perjalanan kami dengan saling bertukar cerita ketika kami masih sma dulu. Kami kurang mengetahui nama-nama tempat ang di gunakan untuk seatle peristirahatan, karena kami mendaki pertamakali di gunung itu dan tanpa guaide yang telah bermean ke gunung itu juga. Perjalanan kami susuri melewati hutan lebat yang berada di lereng bawah gunung merbabu, dan di temani oleh nyanyian anjing hutan yang menggonggong. Kesunyian di tengah hutan juga terusik ketika kami menyalip rombongan anak-anak SMA dari klaten yang sedang kelelahan, dan 2 dari mereka memilih turun karena masuk angin. Selanjutnya mereka menguntit kami berharap mendapat layanan guaide dari kami. Kami pun menyilakan mereka untuk berbareng dengan kami. Di tengah rimbunnya semak-semak yang di lalui jalan setapak terdapat alur air hujan yang mempunyai kedalaman 2 meter, alur tersebut tertutup rapi oleh rerumputan dan tumbuhan perdu, sehingga mampu menjebak kedua personel dari rombongan anak SMA tadi, keduanya terperosok masuk ke parit tersebut hingga kepala merekapun tidak terlihat dari atas karena tertutup semak. Akhirnya mereka berteriak minta tolong. Dan kemudian berhasil di angkat. Ha,,,ha…kami ber tiga sempat berbisik “”untung saja anak-anak SMA ini kita suruh duluan” sehingga bukan kami yang terperosok kedalam jurang, dan kami pun tertawa,,,(he,,,2,,,sori yo cah klaten)

MALAM HARI DI PADANG RUMPUT

Sekitar jam 02.00 dini hari kami berhasil sampai di padang rumput pertama, pemandangan sangat eksotis pada malam itu, karena berbarengan dengan bulan yang bulat sempurna menyinari kesunyian padang rumput yang sedikit terganggu oleh desiran angin malam. Kami berpencar dengan rombongan anak SMA tadi, mereka memilih untuk sampai di padang rumput dari pada susah-susah ke puncak. Beristirahat dan menggelar matras adalah pilihan kami untuk menikmati malam terang bulan di padang rumput, untuk menghangatkan suasana malam, sebungkus kopi, gula siap kami racik menjadi minuman kopi yang kami sukai. Malam itu kami tidak membawa gas dan kompor, sehingga kami butuh bantuan kayu-kayu kering untuk membuat api, sekaligus membuat perapian untuk menghangatkan badan juga untuk membikin kopi.


Rembulan malam juga membantu menemai kami mengusir kesunyian, sedangkan di arah selatan terlihat sorotan-sorotan cahaya kecil yang merupakan lampu senter para pendaki gunung merapi.apabila suasana tidak berkabut sinar senter pendaki gunung merapi dapat terlihat dari gunung merbabu, begitupun sebaliknya apabila kita mendaki gunung merapi, maka senter pendaki gunung merbabu akan juga tampak. Hal ini terjadi karena jarak gunung merbabu-merapi sangat dekat dan jalur pendakiannya pun bersejajar. Kejadian ini juga dapat terlihat ketika kita mendaki gunung Sindoro maupun gunung Sumbing, karakter letak maupun jalur pendakian yang bersebelahan.


Simbah duduk di samping tas-tas kami yang kami letakkan di tanah sambil mempersiapkan piranti, sedangkan saya dan bekti mencari ranting-ranting kering di sekitar padang rumput yang mempunyai ketinggian sekitar 2400 m dpl. Kayu agak sulit kami temukan, hanya rumput-rumput yang lebat yang memenuhi tempat itu. Tapi untungnya masih ada beberapa gerombol pohan yang tumbuh di antara jutaan pasukan rumput yang berbaris. Satu-dua ranting kami kumpulkan tetapi ga dapat banyak untuk kebutuhan kami memasak air, tiba-tiba,,,alhamdulilah ,,,,saya bergumam dan mengatakan pada bekti, “wah bek ni pendaki kok baek banget mau ninggalin kayu yang sebanyak ini” tanpa piker panjang kmi berdua mengangkut tumpukan kayu kering tersebut.(siangnya waktu turun, ternyata kayu-kayu tersebut merupakan kayu milik warga, sempat berpapasan dengan warga yang sedang mencari kayu, sayapun bertanya, kok sampai setinggi ini buk,,nyari kayunya,,,? Padahal dalam hati kami sedikit tertawa dan mengatakan soriiiiii bu kayumu semalem tak bakar satu gendongan,,,,,,,,,,,,,,,,) kasihan juga sbenarnya tp kita bertiga tertawa terbahak-bahak ketika menjauh dari ibu pencari. Sekali lagi maafkan ..


Sesampai di tempat perapian kayu kami bakar sambil merebus air kami bercanda dan ber-foto2 di kesunyian gunung, yang sesekali terdengar riuh gugusan rumput lebat yang terbelai-belai oleh angin. Setelah beberapa waktu kopi manis dan mie kuah telah terhidang, kami benar-benar menikmati kesunyian tersebut.wah,,,,,indahnya alam ini,,,,

Tanpa terasa jam mulai menunjukkan jam 4 pagi, sehingga kami bergegas melanjutkan perjalanan ,,,,,


MENUJU LERENG PUNCAK

Beberapa saat kami melanjutkan perjalanan, di ufuk timur mulai terdapat remang-remang cahaya yang menandakan matahari mulai berusaha menyingkap lebatnya awan di timur. Di lereng gunung yang berselimut hamparan rumput yang sama sekali tidak terdapat permukaan tanah yang terlihat, semua lantai gunung berasal dari karpet rumput indah nan mewah. Sejenak kami berhenti di lembah diantara dua bukit untuk menikmati sunrise yang mulai mengintip, nan indah gunung lawu yang sedikit terlihat di sebelah timur yang mengecoh mencoba mencuri perhatian untuk menyaingi indahnya sunrise


Indahnya gunung merapi yang mempunyai dua warna, bawah hijau dan atas abu-abu yang merupakan material pasir di sertai asap belerang yang mengepul menambah cantiknya pemandangan di gunung merbabu. Pesona gunung merbabu tidak hanya itu, bunga cantik nan elok juga menghiasi jalan setapak menuju puncak, ya ,,edelweiss adalah bunga itu. Merbabu mempunyai jumlah pohon edelweiss yang paling banyak diantara gunung-gunung se-Jawa Tengah. Keindahannya mencuri perhatian kami, sehingga kami juga berhenti di hutan edelweiss yang paling besar dan rimbun se Jawa tengah, pohonnya mempunyai tinggi sekitar 3,5meter dan diameter pohon mencapai 15 cm, hal seperti ini sulit di temui di gunung-gunung jawa tengah/timur selain di merbabu.

Banyak tipuan puncak bukit di merbabu, sehingga setiap kali kami melihat puncak dan bergegas ke sana, lagi-lagi masih ada puncak yang di atasnya, tenaga kami mulai terkuras di sebelum 2bukit dari puncak, kami kelelahan dan bersandar di lereng beralaskan karpet alam dari rumput. Tanpa kami sadari kami bertiga tertidur pulas, dan terbangun ketika matahari mulai panas ketika jam 7.10. kami tertatih-tatih untuk berjalan, beberapa kali kami menoleh kebelakang mencoba mencuri indahnya pemandangan gunung merapi disela-sela langkah kami. Mendadak kedua personel sulit di giring, simbah tampak lelah, sedangkan bekti berkali-kali memegangi perutnya. Kejadian ini yang paling banyak menelan waktu. Si bekti mengeluh ingin buang hajat, karena sakit perutnya tak tertahan lagi. Diapun menoleh ke kanan kiri untuk mencari tempat,,,bla,,,bla,,,,,! Sedangkan kita berdua menertawakan bekti yang kesakitan karena ingin,,,,,,,,,***cret. Tp akhirnya g jadi juga.

PUNCAK MERBABU

Akhirnya kami sampai di titik 3.145 meter di atas permukaan air laut, susah payah kami akan segera membuat kami berbeda. Suasana cerah, bersamaan musim kemarau. Kanan-kiri menoleh tak sia-sia karena setiap sudut akan menjadi pemandangan yang indah.

Di timur terdapat gunung lawu,meskipun terlihat kecil dan separuhnya tertutup kabut pagi.Sebelah selatan terdapat gunung merapi dan kepulan asap belerangnya, pemandangan ini sangat menakjubkan, seakan-akan kita tinggal selangkah lagi dan melompat bisa sampai di gunung merapi.

Sebelah utara terdapat perbukitan kacil sekitar bukit cinta, jajaran bukit kecil tampak menawan dan sebelah barat terlihat dua gunung yang seakan sedang bercumbu, yaitu gunung sindoro dan sumbing. Di atas kami membuat rekaman parody ala kami, serta berfoto ria. Lelah letih perjalanan semalam terbayar lunas dengan indahnya pesona gunung merbabu, menurut saya pribadi nilai pemandangan rating tertinggi adalah di puncak gunung merbabu di banding gunung se-jawa tengah lannya.


Pada hari itu udara tidak terlalu dingin, sinar terik matahari menyongsong semangat kami. Tingginya kami berpijak tidak membuat kami menjadi tinggi hati, diharapkan dengan moment seperti ini kita bisa menambah syukur dan ketaqwaan kita,amin…

“”Sushi motto, aziz dan bekti akan selalu berpetualang meskipun harus cuma bertiga maupun berdua.””””

Sekedar mengingatkan khususnya buat saya pribadi dan pembaca pada umumnya, jangan lupa sholat meskipun berada dimana saja, gunung, pantai, sedang berlibur maupun kemana.Bravo….PenceClub,,,,

baca juga pendakian lainnya: Gunung LawuMerapiSemeru Slamet Sumbing    

Read More..

Gunung Kelimutu - Danau tiga warna Kelimutu

Gunung Kelimutu adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Flores, Provinsi NTT, Indonesia. Lokasi gunung ini tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Gunung ini memiliki tiga buah danau kawah di puncaknya. Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.


Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna - warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.

Awal mulanya daerah ini diketemukan oleh orang lio Van Such Telen, warga negara Bapak Belanda Mama Lio , tahun 1915. Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat. Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga peneliti yang ingin tahu kejadian alam yang amat langka itu.

Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.

Read More..

Kamis, 05 Mei 2011

Pendakian Gunung Slamet -Jalur Bambangan

Gunung Slamet yang memiliki  ketinggian 3432 mdpl merupakan Gunung tertinggi kedua di pulau Jawa Setelah Semeru. Gunungapi yang secara administrasi berada di wilayah Jawa Tengah yang meliputi lima Kabupaten [ Purbalingga, Tegal, Brebes,Banyumas, dan Pemalang] tergolong aktif dalam kegiatan vulkanismenya tidak seperti Gunungapi Lawu atau Merbabu yang terkesan tidur.
Jalur Utama untuk pendakian adalah melalui Bambangan Desa Kutabawa Kec. Karangrejo, Purbalingga. Selain jalur utama tersebut juga masih ada jalur lain yang juga cukup populer seperti via Batu Raden dan Guci. Kami memilih jalur utama Blambangan, selain karena ini yang pertama kami ke Gunung Slamet kami juga datang dari arah timur jadi lebih dekat.
Gerbang pendakian

Kami tiba di Basecamp menjelang maghrib setelah kurang lebih melakukan perjalanan selama delapan jam menggunakan sepeda motor dari Solo. Oh ya, saya belum memperkenalkan diri, nama saya azis dan teman-teman sering memanggil dengan sebutan simbah dan sahabat saya dalam pendakian ini adalah Sushi, Rohmat dan Arif. Selama masih memungkinkan kami lebih senang menggunakan kendaraan pribadi (sepeda motor tentunya, karna blom punya yg roda 4, hehe..) karena lebih flexibel dan menurut saya jauh lebih menyenangkan.
dari kiri: sushi, ajiz, rohmat, arif              
Di Basecamp kami langsung istrahat sejenak, shalat, memesan makanan dan ngobrol-ngobrol dengan pendaki lain yang baru saja turun. Kurang lebih jam delapan malam kami langsung memulai pendakian. Di awali dengan berdoa agar pendakian ini lancar dan menyenangkan kami lalu mulai menapaki jalur ini setapak demi setapak, dengan cahaya senter dan remang sinar bulan kami tau di sisi jalan adalah kebun kentang milik penduduk. Perjalanan serasa santai karena kami tidak menargetkan sunrise di puncak.
foto pagi hari saat turun
Hutan di Gunung Slamet masih lebat, pohonnya juga besar, sepertinya hutan alami bukan hutan sekundar karena reboisasi karena jarak antar pohonnya juga tidak teratur. Hampir setiap ada tempat yang datar dan agak luas kami menyempatkan istirahat sejenak, terkadang sambil menikmati perbekalan yang kami bawa. Tikus hutannya masih banyak dan tergolong nekat, roti yang kami taruh di samping tempat duduk saja masih dicuri, bahkan saat kami menyorotinya dengan senter sepertinya ia tidak takut dengan kami.
romat & arif - [jalan menuju pos terakhir]
Pada pagi hari kami memasak perbekalan yang telah kami bawa. Akhirnya tiba di pos V [atau pos 4,kami masih ragu] yang sudah berupa bangunan sehingga dapat digunakan untuk beteduh atau menginap. kami terus melakukan pendakian dan menjumpai pos lagi yang juga berupa bangunan, tidak jauh dari pos ini kita akan bertemu batas vegetasi dan menandakan puncak sudah dekat sebagaimana di Gunung Merapi atau Semeru.
pos 5 [bangunan pertama]
Memasuki medan berbatu dan berpasir membuat semangat kami makin berkobar, puncak sudah di depan mata! tapi hati-hati karena pasirnya mudah merosot dan batunya juga tidak stabil dan bisa runtuh. Pemandangan dari sini sungguh mempesona, tebing dan jurang di sebalah kanan dan kiri serta view lepas sejauh mata memandang...
Menjelang puncak
Alhamdulillah... akhirnya kami sampai di puncak, saat itu kuranglebih jam 10 siang. Kami tak menyia-nyiakan waktu di puncak, kesana-kemari untuk mengambil gambar, berbagai pose kemenangan (utk tidak menyebut narsis :p ) juga tak lupa dilakukan..

Puncak
Setelah kurang lebih tiga jam berada di puncak kami pun turun, langit juga sudah mulai tertutup mendung.. disinilah peristriwa itu bermula (lho, apa ada kejadian  tragis jg tho mas??) saat kami mulai turun, pandangan kami terhalang kabut yang lumayan tebal dan rintik hujan sudah jatuh, sepertinya akan segera turun hujan yang lebat. Kami turun mengikuti jalan, seperti yang kami lalui saat naik, namun setelah agak lama jadi serasa asing dan kami mulai menyadari itu bukan jalan yang kami lalui saat naik.
masih di area puncak                         
Dalam kabut yang masih lumayan tebal  dan sesekali terang kami mencari jalur yang asli, kami pun askhirnya menemukan. Tapi belum berakhir karena jalur tersebut terpisah oleh jurang yang lumayan dalam, kami mencoba mencari titik yang memungkinkan untuk menyeberangi jurang tersebut namun tetap saja tidak ada, bahkan sampai mendekati batas vegetasi. Setelah kami yakin tidak ada yang bisa untuk dilalui untuk menyeberang kami memutuskan kembali ke puncak dan memulai dari awal. Beruntung hujan lebat turun saat kami menjelang vegetasi, sehingga tidak terlalu lama dalam hujan sudah tiba di pos bangunan.

Di pos tersebut kami membuat kopi dan beristirahat sambil menunggu hujan reda. Jam 1 malam kami turun, langit cerah dengan bulan yang tampak jelas di langit.

 Pendakian lain:  Gunung Merapi, Semeru, Lawu, Sumbing           

Read More..

Selasa, 03 Mei 2011

Djarum My Great Adventure Indonnesia

Iklan Djarum memang banyak yang bagus, seperti Iklan terbaru di tahun 2011 yang berjudul 'My Great Adventure Indonesia'. Dalam Iklan Ini Keindahan alam Indonesia dikemas dalam video yang sangat mengesankan. Sampai-sampai rasanya bikin kita rugi kalo g bisa mengunjungi tempat-tempat tersebut,hehe... Anda bisa mendownload atau melihat video ini langsung dari situs resmi djarum-super di http://www.djarum-super.com/super-product/jingle-tvc/.

Read More..

Pendakian Gunung Sumbing - jalur Kaliangkrik

Gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah setelah gunung Slamet. Gunung dengan ketinggian 3371 meter ini berada di tiga wilayah kabupaten yaitu Wonosobo, Temanggung dan Magelang. Jalur yang paling umum digunakan adalah jalur Garung wonosobo ( berdekatan dengan basecamp jalur pendakian G. Sindoro kledung).
Kawah G.Sumbing yang masih aktif
Jalur Kaliangkrik berada di wilayah Magelang kec. kaliangkrik dan basecamp nya berada di Desa Butuh. Pada pendakian ini saya gabung bersama teman-teman dari Palawa atmajaya Jogja. Kaliangkrik merupakan basecamp yang dekat dari arah timur seperti Jogja, Solo dan lainnya. Dari Kota Magelang kita bisa langsung menunju kaliangkrik, namun saat itu jembatan untuk menuju Magelang dari Jogja sedang rusak karena banjir lahar dingin sehingga harus lewat jalur alterenatif.
    Basecamp
Berangkat dari Jogja pukul 20.00, kami tiba di basecamp kurang lebih pukul  23.00,Basecamp ini merupakan rumah pak Kadus. dan memulai pendakian pukul 05.00. Awal pendakian kita akan melalui kebun penduduk, trek nya langsung menguras tenaga, terjal dan bertangga-tangga. Lumayan panjang juga disini, setelah itu kita akan memasuki hutan pinus, medannya masih tetap terjal tapi lumayan masih terlindung dari teriknya sengatan matahari oleh pohon-pohon tersebut. kenudian kita akan sampai di shelter 1, yang berupa tiang dan atap yang dapat digunakan untuk berteduh bila hujan.
Kebun- trek awal pendakian     
Shelter 1      
Pada saat kami melakukan pendakian ada beberapa sumber air yang berupa kali, saya tidak tahu apakah pada musim kemarau airnya juga masih mengalir.

Setelah trek yang terjal kita akan melalui jalur yang relatif landai, lumayan panjang juga, vegetasinya berupa rumput dan semak, jadi sinar matahari langsung mengenai tubuh kita.......

Medan akan kembali nge-trek di tandai dengan sungai terakhir sebelum puncak, disinilah kami mengisi air untuk kemah di atas. Vegetasinya masih sama seperti sebelumnya. Dari mata air sampai puncak diperlukan waktu kurang lebih dua jam dengan stamina yang sudah turun, jika masih fit mungkin bisa satu jam.
sumber air [sungai] terakhir sebelum puncak
sabana di area kawah
dari kiri: Nuri, ajiz, Ian, antie sherpa. Pengambil gambar: Mphit :)) 
Kurang lebih 10 menit sebelum Puncak kita akan menemukan jalan yang bercabang seperti huruf Y, yang ke kanan (jalan menurun) adalah ke arah kawah dan di sanalah kami berkemah karena medannya datar, view nya juga bagus. Sedangkan yang kearah kiri atau menanjak adalah ke Puncak. Kami baru ke puncak pada keesokan harinya, sore itu kami langsung ke kawah dan mendirikan tenda. 
  
Suasana di Kemah -area kawah
Untuk sekedar informasi, puncak yang kami sebutkan tadi bukan lah titik tertinggi [puncak abadi]. Gunung Sumbing memiliki beberapa puncak yang merupakan bibir dari kawah, diameter kawah gunung sumbing sengat besar, kurang lebih 800 meter.
Pemandangan dari puncak ke arah kawah

 Puncak [bersama teman-teman palawa]
Terimakasih sudah menyempatkan membaca artikel ini dan selamat ber'adventure'..

baca juga pendakian lainnya: Gunung LawuMerapiSemeru Slamet     

Read More..

Selasa, 26 April 2011

Pendakian Gunung Lawu - jalur Cemoro Kandang

Gunung Lawu merupakan gunungapi yang sudah lama istirahat dari kegiatan vulkanis. Gunung yang merupkan perbatasan antara  propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ini memiliki beberapa jalur pendakian, namun yang lazim di gunakan adalah jalur Cemara kandang dan jalur cemoro sewu, basecamp ini hanya berjarak kurang lebih 300 meter namun sudah beda propinsi yang dipisahkan oleh sungai (jembatan).
Akses menuju Basecamp tidak susah, dari kota solo kita bisa naik bis jurusan solo - Tawangmangu yang kemudian di lanjutakan naik angkudes sampai basecamp. jalan ini sudah beraspal mulus dan merupakan penghubung jateng-jatim.

Ketinggian basecamp cemoro kandang kurang lebih 1910M [google earth] sejajar dengan cemoro sewu. Disini banyak penjual makanan, dari jajanan sampai makanan berat seperti soto, nasgor dan nasi pecel.Jalur cemoro kandang memiliki lima pos yang semuanya sudah berupa bangunan sehingga dapat digunakan untuk berteduh saat hujan. 

Dari Basecamp sampai pos 2 medannya tidak begitu terjal dengan hutan di kanan kirinya. jarak antara pos 2 dan pos 3 sangat panjang, antara kedua pos tersebut ada pos bayangan yang juga bisa kita gunakan untuk berteduh. Tidak terlalu lama dari pos 2 kita akan menyusuri tebing, ada peringatan bahwa tempat tersebut rawan longsor, dan kawat pengaman agar tidak terprosok ke jurang jug sudah banyak yang rusak, namun disamping rawan area ini juga menyuguhkan pemandangan yang menarik oleh tebing, batu-batuan dan pemandangan lepas kearah barat. Setelah melewati titik tersebut kita akan bertemu pos bayangan, ambilah waktu istirahat sejenak karena menuju pos 3 medan sudah semakin terjal, jaraknya juga masih lumayan jauh.
pos 3
Pos 3 berada pada ketinggian 2780M, menuju pos 4 medannya terjal tapi seringkali ada pilihan jalan untuk 'melipir' agar tidak terlalu ngetrek namun jadi lebih panjang. dari pos 3 hutannya masih lebat dan semakin keatas jadi agak jarang, dan akan menjumpai rerumputan yang lumayan luas juga. Meskipun medannya berat tapi pemandangan disini memanjakan mata, bahkan saya paling banyak mengambil gambar disini. Setelah medan terjal, kita akan sampai di tempat yang datar dengan pemandangan yang akan membuat anda seakan lupa dengan lelah sebelumnya, semoga saja anda di tempat ini dalam cuaca yang cerah, disinilah pos 4 berada.
medan menuju pos 4
Di pos 4 kita bisa lebih santai, Jika tidak terburu-buru anda bisa masak-masak dan membuat kopi atau teh hangat disini sambil menikmati panorama yang memanjakan mata. Mulai dari pos 4 jalan menuju puncak relatif datar, tenaga yang di butuhkan tidak sebanyak sebelumnya.
view menjelang pos 4
Di Puncak Lawu (Hargo Dumilah) yang berketinggian 3265mdpl ini terdapat tugu, mungkin untuk menandakan puncak. Silahkan kalian nikmati pemandangan dan suasana disini sepuasnya, hehe.... tidak jauh dari puncak ini juga ada sendang drajat (air), hargo dalem dan juga warung, hanya saja jalur di jalur Cemoro sewu.
tugu puncak lawu
Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.

 Pendakian lain:  Gunung MerapiSemeru Sumbing   Slamet      

Read More..

Rabu, 05 Januari 2011

Tempat Wisata

Tempat wisata ini merupakan halaman yang berisi daftar objek-objek wisata yang ada dalam blog ini. sehingga postingan tempat wisata ini saya jadikan sebagai daftar isi blog. Saya akan berusaha untuk terus menambahkan tempat-tempat  menarik lainnya di Indonesia, sehingga [semoga] bisa lebih bermanfaat bagi para pecinta wisata Indonesia sekaligus memperkenalkan potensi-potensi wisata yang ada.
Namun karena keterbatasan waktu, sumber dan lainnya ,maka masih banyak sekali tempat menarik yang belum terposting disini. Jika anda ingin turut memperkenalkan tempat wisata di daerah anda yang belum dimuat disni, silahkan kirimkan ke alamat email kami: simbahazis@rocketmail.com

Daftar tempat wisata di Indonesia:

1. D.I Aceh

2. Sumatra Utara
3. Riau
[belum ada postingan]

4. Kepulauan Riau
 Pulau Bintan, Pulau Penyengat, Gunung Ranai, Pantai Lagoi, Pantai Trikora 
5. Sumatra Barat


6. Jambi
[belum ada posting]

7. Bengkulu
Pantai Panjang, Tapak Padari, Duayu Sekundang,  Panjang, Pantai Jakat, Bukit Kaba, Fort Marlborough, Suban Air Panas, Air Terjun Kepala SiringDanau Harun Bestari, Perayaan Tabot, Rumah Pengasingan Bung Karno.

8. Kep. Bangka Belitung

9. Sumatra Selatan
           
10. Lampung
Pantai Bagus, Teluk Kiluan, Laguna Helau, Pantai Bagus, Gunung Betung   
          
11. Jakarta

12. Banten
[belum ada posting]

13. Jawa Barat
Gunung:
Tangkuban Perahu, Gunung Salak Endah, Puncak Bogor,  Galunggung
Pantai:
Pelabuhan ratu,  Pantai Pangandaran,             
Danau:
Waduk Jatiluhur,   
Lainnya:
Taman Mekarsari, Wisata alam Linggar Jati, Curug Luhur       
 
14. Jawa Tengah
Gunung:
Gunung Merapi
Pantai:
Pantai Sekucing
Danau:
Waduk Gajahmungkur, Waduk Sempor, Rawa Pening    
Air Terjun:
Grojogan Sewu., Curug Sewu., Air terjun Guci      
Goa:
Goa Jati jajar, Goa Petruk.
Budaya:
Keraton Surakarta, Istana Mangkunagaran, Wisata Solo, Candi Prambanan
Lainnya:
Bledug KuwuAir panas Gonoharjo

15. D.I Yogyakarta
Pantai:
Pantai Depok, Parangtritis, Pantai Baron, Krakal 
Budaya:
Wisata Jogja 


16. Jawa Timur
Gunung:
Bromo dan Kawah Gunung Ijen. Gunung Semeru
Pantai:
Pantai Plengkung, Grajagan Camplong,  Watu Ulo, Teleng ria, Prigi, Klayar, Popoh, pulau sempu, Papuma, Pantai Sukamade, Pulau Bawen.
Lainnya:
Taman Nasional Baluran  

17. Bali
Pantai Sanur, Nusa Dua, Kuta, Jimbaran, Tanah Lot, Pura Besakih, Kintamani, Ubud, Taman Garuda Wisnu Kencana.  Istana Tampaksiring,

18. Nusa Tenggara Barat
19. Nusa Tenggara Timur
20. Kalimantan Barat
21. Kalimantan Tengah
22. Kalimantan Selatan
23. Kalimantan Timur
24. Sulawesi Utara
25. Gorontalo
26. Sulawesi Tengah
27. Sulawesi Barat
28. Sulawesi Tenggara
29. Sulawesi Selatan
30. Maluku utara
31. Maluku
32. Papua Barat
33. Papua
 [maaf, posting ini dalam proses pengerjaan V^.^ ] 

Read More..

Selasa, 04 Januari 2011

Pendakian Gunung Merapi

Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer dengan ketinggian 2968 mdpl. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona, aktivitasnya yang tinggi dan merupakan salah satu gunung paling aktif di dunia, membuat merapi semakin populer dan menantang. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sèlo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Tlogolele. Desa ini terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu sekitar lima jam [terhitung cepat] hingga ke puncak.

Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu lebih lama untuk samapi ke puncak.Dari info yang saya dapat dari petugas di Musium Gunungapi Jogja, Pasca letusan 2006 jalur ini terputus, meskipun maish bisa di siasati dengan menyusuri tebing.Pasca letusan 2010, saya belum tahu kabarnya. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Terus terang saya sendiri baru menggunakan jalur Selo, kata orang-orang yang sudah mencaba berbagai jalur, Selo merupakan jalur yang paling mudah, pemandangannya juga menarik dengan Gunung merbabu di sisi utaranya. Untuk mencapai Selo kita bisa naik angkutan umum dari Kota Boyolali.
Kabut tebal pada pendakian pertama
Sebelum melakukan pendakian, kita membayar retribusi dan melakukan pendaftaran di Basecamp Selo. Basecampnya memiliki aula yang lumayan luas, untuk tempat parkir motor dan istirahat para pendaki, disini juga ada yang menjual nasi goreng, harganya juga bersahabat, tidak beda dengan harga umumnya [menurut saya jauh lebih mahalan di warung dekat basecamp Slamet, jangan bilang2 ma warungnya ya,, hehe V*.^ ]
G. Merbabu dai Merapi
Memulai Pendakian kita akan menyusuri jalan beraspal, terjal juga, dan akan bertemu dengan tulisan raksasa 'NEW SELO' mirip tulisan holiwood lah,hehe..tempat ini juga sering di jadikan area nongkrong,selain pemandangannya bagus juga banyak warung [siang]. Setelah New selo kita akan memasuki perkebunan penduduk, lumayan panjang, aroma khas pupuk kandang juga setia menemani kita seolah memberi semangat  untuk mencapai Merapi :D.


Habis perkebunan kita tiba di hutan pinus, masih banyak ayam hutan disini.Terus saja melakukan pendakian, tapi hati-hati sehabis hutan pinus ini kita akan berada di jalur dengan jurang di sebelah sisinya, terutama di sebalah kanan.
Menjelang Pasar Bubrah
Pasar Bubrah, setelah sebelumnya di suguhi trek yang lumayan terjal dan menguras tenaga kita akan sampai di tempat yang datar, cukup luas, dengan batu besar dimana-mana.Puncak merapi tampak berdiri gagah di depan mata dengan asapnya yang terus mengepul. Pemandangan kearah Merbabu juga begitu mempesona hingga lupa akan kepenatan meskipun sejenak. Tempat ini sangat cocok untuk mendirikan tenda. Di Pasar bubrah ini terdapat monumen yang di bangun untuk mengenang pendaki yang meninggal saat melakukan pendakian Gunung Merapi.


Mulai dari sini, kita kan merasakan suasan yang berbeda dari sebelumnya saat menuju puncak. Tidak ada lagi pepohonan di kanan kiri kita, yang ada hanya bongkahan-bongkahan batu dan pasir. jalur terjal dan batu yang kita pijak tidak semuanya kuat, jadi harus hati-hati agar tidak menjatuhi yang di bawahnya.
Menuju puncak dari pasar bubrah
Alhamdulillah.. akhirnya tiba di puncak merapi, dengan asapnya yang keluar di sela-sela batu, angin yang menghempas wajah, dan pemandangan yang membuat kita makin takjub akan keagungan ciptaan-Nya.


Terima kasih buat sahabat yang sudah melangkah  barsama menuju Puncak Merapi : Sushi, Rohmat, Bekti mas sambas, Agung aha, Dyaz, Diah erni, Sya'ban, Ullie, Uzie, Gendon, Saprol dan teman -teman dari Sukoharjo  pada pendakian pertama yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Read More..

Selasa, 14 Desember 2010

Pendakian Gunung Leuser

Gunung Leuser memiliki ketinggian 3.404 m, merupakan gunung tertinggi di Aceh, Indonesia. Gunung Leuser terletak di sebelah tenggara Aceh, dekat dengan perbatasan Sumatera Utara dan masih dalam Taman Nasional Gunung Leuser [yang mengambil nama gunung ini sebagai namanya].

Taman Nasional Gunung Leuser biasa disingkat TNGL adalah salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia seluas 1.094.692 Hektar yang secara administrasi pemerintahan terletak di dua Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Provinsi Aceh yang terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Aceh Barat Daya,Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, sedangkan Provinsi Sumatera Utara yang terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Dairi, Karo dan Langkat. Gunung Leuser merupakan bagian dari pegunungan Bukit Barisan Sebagaiman Gunung kerinci.

Dewasa ini ada dua rute pendakian menuju puncak Leuser yang pertama adalah dari utara tepatnya dari desa Kedah, ini adalah rute normal yang sering dipakai pendaki, dari desa Kedah ke puncak leuser membutuhkan waktu paling cepat 7 hari pendakian, sedangkan rute pendakian satu lagi dari arah selatan, rute ini jarang dipakai karena cukup jauh dan medannya lebih berat.

Perijinan harus di urus di Kedah, tapi biasanya bisa minta bantuan Guide untuk mengurusnya. Untuk pendakian gunung Leuser diharuskan untuk membawa Guide, dengan alasan faktor keamanan., persyaratan berupa surat jalan kepolisian daerah asal, dan organisasi asal serta Foto Copy KTP perlu disiapkan.

Transportasi
Medan - Kedah
Dari kota Medan naik mobil jenis L300 milik PO. Karsimana atau PO. BTN, kedua nya memiliki pool di jalan Bintang, jadwal keberangkatan tiap harinya adalah jam 19:00 WIB dan sampai di Kedah ke esokan harinya.
Jalur Pendakian Leuser
Trek awal Penosan Desa Kedah
N3º 59’ 43.5”  E97º 15’ 27.5” 1188 m dpl
Dusun Penosan, yang merupakan bagian dari desa Kedah adalah merupakan gerbang masuk menuju puncak Leuser, di dusun kecil ini jalur jalan setapak dimulai dari depan sebuah cottage , jalur jalan setapak menyusuri ladang kemudian turun kearah sungai kecil dan menyeberanginya, kemudian masuk ke hutan kawasan Sinebuk Green. Didaerah ini kita akan menemukan 4 buah bungalow (N3º 58’ 49.4’ E97º 15’ 13.4”) yang disewakan untuk umum. Dari sini kemudian jalur kembali masuk kehutan yang basah dan tanjakan cukup tajam, dan begitu keluar dari kawasan ini kita akan sampai disebuah bukit yang terbuka dan ditumbuhi rumput, lokasi ini dikenal dengan nama Tabaco Hut

Tabacco HutTabaco Hut
N3º 58’ 41.2’ E97º 14’ 35.1” 1621 m dpl
Tabacco hut ini dulu nya adalah sebuah areal perkebuanan teh namun telah dibakar dan dirusak selama terjadinya konflik Aceh silam. Disini terdapat sebuah pondok berbentuk panggung yang biasa dijadikan tempat beristirahat oleh para petani dan penggembala. Tabaco Hut bisa dijadikan lokasi bermalam bagi pendaki yang kemalaman sampai di kawasan ini. Dari sini jalan tidak begitu jelas karena tercampur dengan jejak kerbau, jalur pendakian berada agak kekanan kemudian masuk kembali kedalam hutan mendaki punggungan Gunung Puncak Angkasan. Jalur setapaknya jelas dan terjal, inilah etape yang menguras tenaga di medan pendakian Leuser. Setelah cukup lama bergulat dengan tenajakan terjal kita akan sampai di sebuah simpang yang dikenal dengan Pos Simpang Air.

Simpang Air
N3º 58’ 06.6” E97º 13’ 39.0” 2201 m dpl
Setelah cukup lama mendaki kita akan sampai disebuah simpang jalan, kekiri menuju Puncak Angkasan dan kekanan turun menuju dusun Ulni. Disini juga terdapat genangan sumber air namun berwarna coklat tapi bisa untuk diminum. Lokasi ini sering dijadikan tempat bermalam oleh pendaki. Arealnya cukup menampung tiga buah tenda. Dari sini jalan setapak menuju Pucuk Angkasan terus cukup jelas dan terus menanjak. Setelah cukup lama mendaki kemudian keadaan hutan akan cukup terbuka dan sampai pada sebauh dataran yang cukup luar yang dikenal dengan nama BIVAK 1

Bivak I
N3º 57’ 43.1’ E97º 13’ 10.3”2740 m dpl
Bivak I ini merupakan sebuah dataran terbuka yang cukup luas bisa menampung sepuluh tenda kapasitas 3 orang, di lokasi ini terdapat sumber air berupa genangan air. Akan tetapi hanya ada airnya dimusim basah saja, jika musim kemarau tidak ada air disini. Jika para pendaki mulai mendaki dari Kedah pagi hari sekitar jam tujuh dan bergerak secara konstan maka akan bisa mencapai Bivak I ini pada sore hari sekitar jam enam. Dari lokasi ini jalan setapak masih terus menyusuri beberapa daerah punggungan yang terbuka dan sesekali harus menyelinap diantara rimbun dahan-dahan pohon. Setelah itu hingga sampai Puncak Angkasan kondisi medan pendakian akan terbuka jika cuaca cerah akan terlihat jelas Kuta Panjang dan desa Kedah.

Pucuk Angkasan
N3º 56’ 08.0” E97º 12’ 58.5” 2891 m dpl
Pucuk Angkasan adalah sebuah puncak gunung yang pertama kali harus dilewati oleh pendaki, dan dari Pucak Angkasan ini jika cuaca cerah para pendaki bisa melihat sosok puncak Leuser terlihat jauh membiru di arah selatan. Pucuk Angkasan ini juga sering dijadikan areal camp oleh para pendaki, agak terbuka dan cukup luas untuk empat sampai lima tenda, sumber air berada sedikit agak turun dari pucuk angkasan tepatnya disebuah padang rumput kecil yang banyak sekali ditumbuhi oleh kantong semar kecil-kecil aneka warna. Dari Pucuk Angkasan jalur setapak menurun melewati padang rumput kecil tadi dan terus melipiri pungguan dan kemudian menanjak terus melipiri punggungan dan sampai di pos berikutnya yaitu Kayu Manis I.

Kayu Manis I
N3º 56’ 24.6” E97º 12’ 22.1” 2828 m dpl
Kayu manis satu ini berupa sebauh dataran kecil yang bisa menampung dua tenda sedikit terbuka dan berada di gigiran sebuah jurang, dari sini puncak-puncak pegunungan Leuser jelas terlihat. Disini ada sumber air namun sumber air ini dimusim kemarau akan mongering. Dari sini perjalanan terus melipiri punggunan dan mananjak naik, kemdian turun dan kemudian sampai di Kayu Manis II.

Kayu Manis II
N3º 56’ 26.1” E97º 11’ 43.5” 2769 m dpl
Kayu Manis II ini lebih kecil dari kayu manis I dan biasanya dipakai pendaki untuk beristirahat sejenak karena letaknya yang tanggung antara Kayu Manis I dan Kayu manis II. Selepas kayu manis II ini jalan setapak kembali menurun dan kemudian menanjak cukup tajam menuju puncak Kayu Manis III.



Kayu Manis III
N3º 56’ 12.4” E97º 11’ 18.9” 2631 m dpl
Kayu Manis III berupa sebuah puncak bukit yang terbuka dan cukup luas menampung 5 tenda, sumber air tidak ditemukan di puncak ini. Pemandangan masih bisa lepas melihat puncak-puncak pegunungan Leuser. Dari sini kemudian jalan setapak menurun tajam kemudian memasuki hutan berlumut yang basah, dan pohon-pohon rubuh yang melintang di tengah jalan. Jalur trekk yang basah dan berhumus tebal terus menurun curam hingga sampai pada sebuah daerah lembah dan disini terdapat pos yang disebut dengan Pos Lintasan Badak.

Pos Lintasan Badak
N3º 55’ 31.5” E97º 10’ 58.9” 2348 m dpl
Pos ini berada di sebelah kiri jalan setapak, lahan terbuka dan cukup lebar untuk memuat tiga hingga emapt tenda. Di lokasi ini terdapat sumber air genangan hasil rembesan dari pepohonan sekitarnya, ini menyebabkan air nya berwarna coklat namun bisa untuk diminum, sebaiknya jangan diminum mentah. Kemudian jalur setapak dari pos ini kembali menuntun kita memasuki hutan yang dikenal dengan sebutan hutan Papanji, di hutan ini menurut informasi populasi Harimau Sumatera masih cukup banyak dan sering terlihat, ada baiknya para pendaki berjalan berkelompok sewaktu melewati hutan ini. Keadaan jalan setapaknya menanjak dan hutannya lembab, banyak ditumbuhi oleh rotan berduri. Keadaan seperti ini terus berlangsung hingga sampai di Pos Papanji

Pos Papanji
N3º 54’ 33.3” E97º 10’ 23.4” 2435 m dpl
Pos Papanji ini berada persis di jalan setapak di dalam rapatnya hutan Papanji, sebuah dataran tanah yang kecil dan hanya bisa menampung dua buah tenda. Di atas sedikit dari pos ini terdapat sebuah sumber genangan air. Sebaiknya mengambil air jangan diwaktu magrib dan pagi hari sekali karena menurut informasi jam-jam tersebut adalah jam nya Harimau Sumatera untuk minum. Dari pos Papanji ini jalur terus mendaki keadaan hutan masih rapat dan hingga sampai di derah puncak papanji jalan setapak berbelok kekiri dan kemudian melipiri punggungan menurun. Setelah melewati sebuah tanjakan tak lama kemudian sampai di sebuah padang rumput yang luas, jalan setepak terus membelah padang rumput ini yang banyak dijumpai aneka vegetasi yang beraneka ragam.

Pos Padang Rumput
N3º 53’ 41.7” E97º 08’ 40.9” 2405 m dpl
Pos Padang Rumput ini berada persis ditengah padang rumput dengan pemandangan pegunungan leuser dan lembah sungai alas. Cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda, ada sumber air yang merupakan sebuah lubang yang sengaja di gali. Kemungkinan juga pada musim kemarau sumber air ini akan hilang. Dari Pos Padang rumput ini jalan setapak terus menurun menempuh padang rumput yang terbuka, kemudian turun menyeberangi sebuah sungai kecil dan kembali mendaki beberapa bukit yang terbuka dan akhirnya bertemu dengan sungai Alas. Sungai ini sangat berbahaya di musim hujan karena banjir bandangnya datang dengan tiba-tiba, jika terjadi banjir banding maka akan susah menyeberanginya, pendaki akan terpaksa harus menunggu sampai airnya surut. Setelah menyeberangi sungai Alas maka akan sampai di pos Camp Alas.

Pos Camp Alas.
N3º 53’ 02.4” E97º 08’ 01.7” 2292 m dpl
Pos Camp Alas ini cukup luas persis berada dipinggir atas sungai Alas, cukup luas dengan hamparan rumput. Sering dijadikan camp bermalam oleh para pendaki. Daerah terbuka dan memiliki pemandangan yang cukup menarik dan air yang melimpah ruah. Dari Camp Alas jalur trekk kemudian berbelok ke kiri menanjak naik mendaki sebuah punggungan yang tidak begitu curam, medan masih terbuka, hanya tanaman perdu cukup banyak di jumpai, dan kemudian sampai di Pos Kuta Panjang.

Pos Kuta Panjang
N3º 52’ 18.8” E97º 08’ 13.3” 2455 m dpl
Pos Kuta Panjang berada di atas sebuah bukit berumput dan terbuka. Cukup luas untuk menampung beberapa tenda. Sumber air terdapat di bebapa tempat berupa genangan air yang terkumpul. Namun dimusim kemarau tentu akan sulit menemukan air disini mengingat bentuk konturnya yang cukup tinggi. Dari Pos Kuta Panjang ini jalur trek kemudian turun dan berpindah ke punggungan di sebelah kirinya menelusuri hutan naik terus punggungan tersebut dan akhirnya sampai di pos Kolam Badak

Pos Kolam Badak
N3º 51’ 10.1” E97º 08’ 13.8” 2730 m dpl
Pos Kolam Badak ini berada disebuah lereng punggunan bukit, disini terdapat sebuah telaga kecil yang dipenuhi oleh lumut kuning di pinggirnya, akan tetapi air nya bisa diminum dan posisi lokasi mendirikan tenda berjarak 10 meter dari telanga, cukup untuk mendirikan tiga buah tenda. Dari pos Kolam Badak ini jalur trek terus mendaki terjal melewati punggungan dan tumbuhan perdu, hingga terus melipiri bagian atas punggungan tersebut kemudian turun ke sebuah dataran yang cukup luas yang ditumbuhi tumbuhan perdu yang dikenal dengan sebutan Pos Bivak III

Puncak Bivak III
N3º 49’ 50.1” E97º 08’ 29.2” 2976 m dpl
Pos Bivak III ini sebuah dataran terbuka dengan tumbuhan perdu, areal campnya berupa permukaan tanah yang cukup datar dan bisa memuat tiga buah tenda, namun di daerah ini tidak ada sumber air. Kalaupun ada hanya berupa genangan air. Trek dari Pos Bivak III ini berlanjut mendatar terus melipiri bagian atas rangkaian pungguan tadi dibagian kakan curang cukup dalam dan dibagian kirinya lebih ladai setelah melewati beberapa punggungan akhirnya sampai di Pos Camp Putri

Pos Camp Putri
N3º 49’ 10.7” E97º 09’ 28.4” 2934 m dpl
Pos ini berada didaerah terbuka, dengan pemandangan yang lepas kearah puncak Tanpa Nama, Puncak Loser dan Puncak Leuser yang terlihat membiru didepan mata. Dengan beralaskan rumput mendirikan tenda di daerah ini sangat mengasyikan dengan pemandangan alam yang disuguhkan. Sumber air disini juga berupa genangan air yang hanya ada di musim basah. Dari Pos Camp Putri ini, jalur treknya menuruni lembah menyeberang naik ke punggungan gunung Bivak III yang merupakan awal dari jejeran punggungan Puncak Tanpa Nama., setelah melewati pununggunan gunung Bivak III akhirnya sampai di Pos Bivak Kaleng

Bivak Kaleng
N3º 49’ 12.2” E97º 10’ 44.1” 2927 m dpl
Pos bivak kaleng ini merupakan sebuah dataran tanah yang terbuka dan tidak begitu rata, cukup untuk menampung tiga buah tenda, dahulu di daerah ini banyak ditemukan bekas kaleng-kaleng makanan tentara Belanda, dan hingga sekarang masih ada sebagian yang tersebar di pinggiran semak-semaknya. Sumber air tidak ada disini hanya jika musim basah bisa ditemukan air genangan di beberapa tempat di daerah ini. Jalur setapak dari Pos ini berlanjut kembali memasuki hutan perdu menanjak cukup tajam. Dan kembali menyusuri bagian atas punggungan yang terbuka dengan tumbuhan perdunya. Terus melipiri medan tersebut dan di kanan jalan jurang menganga dalam. Kemudian sampai di Pos Bivak Batu.

Bivak BatuPos Bivak Batu
N3º 48’ 38.5” E97º 11’ 31.9” 2947 m dpl
Pos Bivak Batu ini berada persis diatas sebuah punggungan yang bisa memandang lepas puncak loser yang menyembul dibalik bukit yang ada diseberang lokasi pos ini. Pos ini sangat terbuka dan berada diatas lembah, pemandangan sangat indah dari pos Bivak Batu ini, sumber air hanya ada dimusim basah saja. Dari pos ini jalan setapak turun menyeberangi lembah kembali memasuki hutan yang cukup lebat pada dasar lembah ada sebuah sungai kecil yang harus diseberangi. Setelah melewati beberapa padang rumput kecil maka kita akan sampai di Pos Simpang Tanpa Nama

Simpang Tanpa Nama
N3º 47’ 13.3” E97º 11’ 55.0” 3197 m dpl
Pos Simpang Tanpa Nama ini adalah sebauh persimpangan jalan, jika belok kiri maka jalur setapak akan mengantarkan kita ke Puncak Tanpa Nama, lurus akan terus menuju Puncak Leuser. Lokasi pos ini merupakan areal terbuka yang ditumbuhi rumput, sumber air juga hanya berupa genangan yang di gali dan sudah pasti hanya ada airnya di musim basah saja. Dari Pos ini jalur setapak menuju Leuser terus mengikuti punggungan bukit dan akhirnya turun ke sebuah padang rumput luas yang dikenal dengan sebutan Lapangan Bola.

Pos Lapangan Bola
N3º 46’ 20.6” E97º 11’ 19.6” 3126 m dpl
Lapangan Bola ini seperti namanya merupakan padang rumput yang luas sekali melebihi besarnya lapangan bola, sedikit lembab dimusim panas tanahnya dan menjadi rawa dimusim basah. Lokasi mendirikan tenda ada di ujung lapangan ini berada sedikit tinggi dari lapangannya sehingga tanahnya jauh lebih kering dan keras, untuk sumber air ada tidak jauh dari lokasi camp, sebelah kanan padang rumput agak kebawah sedikit. Dari pos Lapangan Bola, jalur trek terus berlanjut melipiri gigiran punggungan dan kemudin menanjak naik kesebuah punggungan hingga sampai dipuncak punggungan tersebut kita akan bisa melihat sosok megah puncak Loaser terpampang di depan mata, lokasi ini disebut juga dengan Gerbang Loser. Dari sini jalur trek menurun tajam kelembah kaki punggungan puncak Loser dan kemudian menanjak terus kearah kanan dan membelok ke bagian kiri, jalan setapaknya sudah bercampur dengan batu-batu granit, kondisi ini terus hingga mencapai Puncak Loser.

Puncak Loser
N3º 45’ 23.3” E97º 10’ 24.6” 3404 m dpl
Kondisi puncak Loser cukup luas, ada tiang trianggulasi sekundernya dan di arah barat dari tiang ini ada sebuah cerukan yang sering dijadikan tempat mendirikan tenda oleh pendaki. Dipuncak Loser tidak ada sumber air kecuali dimusim basah. Dari puncak ini kita bebas memandang kesegala arah termasuk puncak Leuser yang terlihat tegak berdiri di arah Barat Daya. Dari puncak ini jalur menuju puncak Leuser turun kearah selatan terus melipiri punggungan yang jurangnya curam disebelah kanan. Setelah melipiri jurang kemudian turun kelembah yang memisahkan punggungan puncak Leuser dengan bagian bukit dari punggungan puncak Loser.

Puncak Leuser
N3º 44’ 29.4” E97º 09’ 17.8” 3143 m dpl
Puncak Leuser ini tidak terlalu luas, tidak ada tiang trianggulasi di puncak ini. Puncak yang menempati urutan ketiga tertinggi di kawasan pegunungan Leuser ini lebih popular dari pada puncak tertinggi pegunungan ini yaitu puncak Tanpa Nama. Jika cuaca cerah kita bisa melihat dengan jelas hamparan pegunungan Leuser ini dan sayup-sayup diarah Barat tampak pantai barat Aceh dengan kota-kota pelabuhannya.
 
Di pegunungan hampir seluruh pemandangan di pegunungan ini sangat menarik dan alami, selain itu banyak ditemukan vegetasi yang menarik sekali salah satunya adalah tumbuhan Kantong Semar yang beraneka species, beraneka warna, bentuk dan ukuran. Selain pemandangan dan vegetasi yang unik, serta hutan yang perawan, dikawasan pegunungan ini kita juga bisa menemukan sebuah telaga kecil yang terletak di kaki puncak Leuser, telaga berair bening ini terlihat tenang dan dalam. Letaknya tersembunyi dari jalan setapak, sangat indah dan hening. Cocok untuk tempat beristirahat setelah perjuangan mencapai puncak Leuser.

Sumber: Tim Ekspedisi pendataan
Gunung Leuser highcamp 2008

Read More..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...