Kamis, 05 Mei 2011

Pendakian Gunung Slamet -Jalur Bambangan

Gunung Slamet yang memiliki  ketinggian 3432 mdpl merupakan Gunung tertinggi kedua di pulau Jawa Setelah Semeru. Gunungapi yang secara administrasi berada di wilayah Jawa Tengah yang meliputi lima Kabupaten [ Purbalingga, Tegal, Brebes,Banyumas, dan Pemalang] tergolong aktif dalam kegiatan vulkanismenya tidak seperti Gunungapi Lawu atau Merbabu yang terkesan tidur.
Jalur Utama untuk pendakian adalah melalui Bambangan Desa Kutabawa Kec. Karangrejo, Purbalingga. Selain jalur utama tersebut juga masih ada jalur lain yang juga cukup populer seperti via Batu Raden dan Guci. Kami memilih jalur utama Blambangan, selain karena ini yang pertama kami ke Gunung Slamet kami juga datang dari arah timur jadi lebih dekat.
Gerbang pendakian

Kami tiba di Basecamp menjelang maghrib setelah kurang lebih melakukan perjalanan selama delapan jam menggunakan sepeda motor dari Solo. Oh ya, saya belum memperkenalkan diri, nama saya azis dan teman-teman sering memanggil dengan sebutan simbah dan sahabat saya dalam pendakian ini adalah Sushi, Rohmat dan Arif. Selama masih memungkinkan kami lebih senang menggunakan kendaraan pribadi (sepeda motor tentunya, karna blom punya yg roda 4, hehe..) karena lebih flexibel dan menurut saya jauh lebih menyenangkan.
dari kiri: sushi, ajiz, rohmat, arif              
Di Basecamp kami langsung istrahat sejenak, shalat, memesan makanan dan ngobrol-ngobrol dengan pendaki lain yang baru saja turun. Kurang lebih jam delapan malam kami langsung memulai pendakian. Di awali dengan berdoa agar pendakian ini lancar dan menyenangkan kami lalu mulai menapaki jalur ini setapak demi setapak, dengan cahaya senter dan remang sinar bulan kami tau di sisi jalan adalah kebun kentang milik penduduk. Perjalanan serasa santai karena kami tidak menargetkan sunrise di puncak.
foto pagi hari saat turun
Hutan di Gunung Slamet masih lebat, pohonnya juga besar, sepertinya hutan alami bukan hutan sekundar karena reboisasi karena jarak antar pohonnya juga tidak teratur. Hampir setiap ada tempat yang datar dan agak luas kami menyempatkan istirahat sejenak, terkadang sambil menikmati perbekalan yang kami bawa. Tikus hutannya masih banyak dan tergolong nekat, roti yang kami taruh di samping tempat duduk saja masih dicuri, bahkan saat kami menyorotinya dengan senter sepertinya ia tidak takut dengan kami.
romat & arif - [jalan menuju pos terakhir]
Pada pagi hari kami memasak perbekalan yang telah kami bawa. Akhirnya tiba di pos V [atau pos 4,kami masih ragu] yang sudah berupa bangunan sehingga dapat digunakan untuk beteduh atau menginap. kami terus melakukan pendakian dan menjumpai pos lagi yang juga berupa bangunan, tidak jauh dari pos ini kita akan bertemu batas vegetasi dan menandakan puncak sudah dekat sebagaimana di Gunung Merapi atau Semeru.
pos 5 [bangunan pertama]
Memasuki medan berbatu dan berpasir membuat semangat kami makin berkobar, puncak sudah di depan mata! tapi hati-hati karena pasirnya mudah merosot dan batunya juga tidak stabil dan bisa runtuh. Pemandangan dari sini sungguh mempesona, tebing dan jurang di sebalah kanan dan kiri serta view lepas sejauh mata memandang...
Menjelang puncak
Alhamdulillah... akhirnya kami sampai di puncak, saat itu kuranglebih jam 10 siang. Kami tak menyia-nyiakan waktu di puncak, kesana-kemari untuk mengambil gambar, berbagai pose kemenangan (utk tidak menyebut narsis :p ) juga tak lupa dilakukan..

Puncak
Setelah kurang lebih tiga jam berada di puncak kami pun turun, langit juga sudah mulai tertutup mendung.. disinilah peristriwa itu bermula (lho, apa ada kejadian  tragis jg tho mas??) saat kami mulai turun, pandangan kami terhalang kabut yang lumayan tebal dan rintik hujan sudah jatuh, sepertinya akan segera turun hujan yang lebat. Kami turun mengikuti jalan, seperti yang kami lalui saat naik, namun setelah agak lama jadi serasa asing dan kami mulai menyadari itu bukan jalan yang kami lalui saat naik.
masih di area puncak                         
Dalam kabut yang masih lumayan tebal  dan sesekali terang kami mencari jalur yang asli, kami pun askhirnya menemukan. Tapi belum berakhir karena jalur tersebut terpisah oleh jurang yang lumayan dalam, kami mencoba mencari titik yang memungkinkan untuk menyeberangi jurang tersebut namun tetap saja tidak ada, bahkan sampai mendekati batas vegetasi. Setelah kami yakin tidak ada yang bisa untuk dilalui untuk menyeberang kami memutuskan kembali ke puncak dan memulai dari awal. Beruntung hujan lebat turun saat kami menjelang vegetasi, sehingga tidak terlalu lama dalam hujan sudah tiba di pos bangunan.

Di pos tersebut kami membuat kopi dan beristirahat sambil menunggu hujan reda. Jam 1 malam kami turun, langit cerah dengan bulan yang tampak jelas di langit.

 Pendakian lain:  Gunung Merapi, Semeru, Lawu, Sumbing           

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...